Selasa, 26 Februari 2019

PUISI CIPTAAN ZHEELIA

HIDUP

Kertas itu tak selamanya putih

Tinta itu tak selamanya berwarna

Kadang roda kehidupan berada di bawah

Terkadang pula kita bisa lebih tinggi dari segalanya

 

 

MENGUKIR 

Secerca harapan memunculkan motivasi
Secerca keinginan mengharapkan keberhasilan
Sebuah perjuangan mengharapkan hasil
Sebuah kesuksesan menjadi akhir yang memuaskan
             Ketika cahaya menerangi dunia
             Ada manfaat dikala kita merasa
             Ketika perjuangan ada dalam doa
             Ada keberhasilan jika kita percaya

BERAWAL DARI HARAPAN BERAKHIR DENGAN DOA

Ketika Tuhan mengijinkan kita bertemu. Aku berharap, engkau adalah yang terakhir bagiku. Namun, apalah daya diriku. hanya mampu berharap padamu, tanpa menghiraukan orang lain.
Dan kisahku dimulai dari HARAPAN .... ^_^
     Yah, mungkin kalian belum mengenalku. Karena aku masih baru belajar menulis sebuah cerita. Dan inilah kisahku!! Aku Zhee,s eorang wanita biasa, dari keluarga yang biasa juga. Sekarang aku duduk dibangku SMP. Tepatnya kelas 2 SMP. Awalnya aku gadis yang pendiam, dan tidak terlalu banyak tingkah. Namun .....
(Saat aku di SMP)
      Di kelas 2 SMP, aku ditunjuk sebagai ketua kelas. Sejak saat itu, aku menjadi seorang gadis yang tidak pemalu lagi. Setiap harinya aku menertibkan kelas. Kadang, yang menuliskan catatan di depan kelas juga aku...
"Zhee, tuliskan catatan di papan tulis." Ucap seorang guru
"Baik bu." Ucapku sambil menerima buku dan menuliskannya ke papan tulis. Karena ukuran papan tulis tidak terlalu lebar. Mau tak mau, aku harus menunggu teman menulis baru aku melanjutkan menulisnya kembali.
      Setelah selesai menulis, akupun meminjam buku catatan teman untuk disalin ke buku catatanku.
Hari itupun berlalu, selayaknya waktu yang berjalan. Hingga akhirnya, kakiku melangkah pulang. Begitulah keseharianku, kesekolah dan rumah (membosankan bukan?) ^_^
Sesampainya dirumah, layaknya seorang anak, ya jelas saja, aku mengganti pakaianku, lalu makan dengan makanan yang sudah tersedia. Menonton TV adalah salah satu hobiku. Sembari makan, mataku bisa akan lebih banyak tertuju pada siaran Tv. Film kartun adalah salah satu kesukaanku. Aku bisa tertawa sendiri sembari menonton Tv.
       Saat dirumah, yang paling protect kalau aku tak belajar adalah tanteku. Adik perempuan dari bapakku. Dikala matanya melirikku yang asik menonton Tv. Dia bisa saja langsung berbicara ...
"Zhee, ada PR gak?" Dengan nada 1/2 oktaf (Sebutan kalau nada mulai tinggi)
"Gak ada tante." Ucapku sambil terfokus dengan TV.
Namun, kembali lagi suara itu mengganggu ...
"Zhee, besok ada ujian gak?" Masih dengan 1/2 oktaf.
"Enggak tante!" Ucapku sembari terjaga dengan TV sambil tertawa.
Lalu untuk yang ketiga kalinya ...
"Zhee, belajar sekarang!" Ucap tanteku sambil mematikan Tv dengan suara 1 oktaf lembut, namun wajah yang nampak begitu kesal. 
        Dengan ternganga dan suapan terakhir nasi yang mau aku masukkan kemulut.
Aku menatapnya dan mengangguk. Bergegas kubawa piring dan gelasku ke dapur, lalu kucuci bersih semuanya. Dan mengambil langkah cepat membawa buku pelajaran yang akan diajarkan besok. Tanteku tak hanya mengingatkan aku belajar, disebelahku dia selalu ada. Dalam belajar aku selalu terjaga, jikalau ada yang tak paham, aku selalu tanyakan padanya. Dan begitulah caraku belajar di rumah. Tak heran jika 5 besar selalu bisa kuraih.
      Hari Rabu, merupakan hari yang paling kutunggu. Karena hanya hari itu pelajaran Penjas (Pendidikan Jasmani) kudapatkan, berolahraga adalah salah satu cara meregangkan segala yang tegang."Itu sih menurutku." Hahaha...
        Saat semua teman sudah menuju lapangan, dengan bangga aku melangkahkan kaki menuju pintu keluar, namun ...
"Karena minggu depan, kelas kalian ditugaskan memimpin upacara, siapa diantara kalian bersedia menjadi pemimpin upacara?" ucap guru olahragaku dikala aku berjalan menuju teman-teman. 
        Semua teman tertunduk diam. Beberapa pria saling menunjuk. Meminta temanku si A dan B lah, dan berbagai macamlah ditunjuk mereka. Akupun diam dengan wajah tertunduk. Dengan harapan, "Jangan aku, jangan aku."
Dan benar saja, guruku lalu berkata ...
"Karena tidak ada yang bersedia, maka ketua kelas yang akan menjadi pemimpin upacara." Ucap guruku dengan bangga dan memanggilku kedepan lapangan. "Zhee...."
         Dengan ekspresi terkejut, setengah senyum terpaksa, kakiku melangkah menuju guruku. Sembari aku mendengar tepuk tangan dan suara bangga dari teman-temanku.
"Saya gak berani pak." Ucapku sambil menatap guruku.
"Nanti saya akan ajarkan." Sembari tersenyum dan mengelus kepala dan pundakku. Itulah tindakan guruku menenangkanku.
       Dengan perasaan yang sangat tak yakin, apalagi mengingat kepala sekolah yang akan menjadi pembinanya. Maka perasaan itu semakin tak jelas. Takut dan gugup menjadi satu sama sekali tak ada bahagianya. Saat pelajaran olahraga kumanfaatkan waktu dengan belajar menjadi seorang pemimpin upacara. Dengan serius dan fokus aku mencoba dan mencoba. Begitupun teman-teman lain yang ditugaskan. Semua wanita mengemban bagian dalam upacara nanti. Bel habisnya jam belajar itu membuatku semakin takut. Namun kembali lagi, guru olahragaku menenangkan dan menguatkan.
         Hari itupun berlalu, latihan dan latihan selalu kulakukan tidak dirumah, tidak disekolah selalu berlatih. Perasaan takut deg,deggan itu memang tidak dapat dihilangkan. Dan waktu kembali lagi, berlalu begitu cepat. Hari yang dinanti, akhirnya datang juga. Dengan wajah tegang aku mulai memasuki lapangan, saat aba-aba diberikan.
"Upacara pada pagi hari ini akan dimulai. Pemimpin upacara memasuki lapangan upacara." Ucap seorang teman sebagai aba-aba.
        Dengan tegap dan sedikit takut, aku memasuki lapangan upacara. Dan saat laporan para pemimpin barisan, aku sekilas merasa bahwa pandangan tertuju padaku. Dan ketika semuanya kembali dengan lantang aku memberi penghormatan kepada pembina upacara.
"Kepada PEMBINA UPACARA, HORMAT GERAAKKK!!!"
"Tegak Gerak!!" Ucapku senyum pada saat pembina menurunkan tangannya.
          Dan upacara berakhir hari itu. Dengan perasaan lega namun sedikit gugup juga. Tapi, aku bangga sudah pernah mencoba menjadi seorang pemimpin upacara. Ya, setidaknya aku bisa rasa, apa yang dirasakan saat menjadi seorang pemimpin upacara. Semenjak kejadian itu, kelas lain mengikuti kami dengan mengutus para wanita mnegambil bagian dalam upacara.
            Yah, begitulah kisahku dikelas 2 SMP. Seperti halnya tadi kubilang, waktu berlalu banyak kisah terlewati. Kenaikan kelas menjadi hal yang paling ditakuti. Belum lagi, dengan syarat dan peraturan baru disekolahku. Peraturannya yakni, setiap siswa yang rangking 3 besar akan dipindahkan ke kelas unggulan, yakni 91. Teman-temanku memutuskan tak mau beranjak dari kelas 93. Maka saat itu, akupun tak beranjak dari kelas 93. Walau sempat merasakan 1 hari di kelas 91. Namun, hari itu juga aku memutuskan kembali ke kelas 93. Betapa senangnya aku, dapat kembali dengan teman-temanku.
BERSAMMMMBBUNGGGGG...
"Coment dong cerita aku, kira-kira enaknya lanjut atau ada yang kurang?"
^__^
COMENT YA ALL..
Ditunggu yah.....

Minggu, 27 Mei 2018

Langitku Akankah Juga Langitmu?

                     Sepintas muncul pertanyaan dalam diriku,"Akankah langitku dan langitmu sama?" Pertanyaan itu seketika muncul saat pandanganku mengarah ke langit siang itu. Langit yang cerah, dan terlihat awan bergerak lebih cepat, hingga menutupi matahari. Sosok yang kini telah tiada, tetapi amat aku rindukan. Sosok yang menjadi panutanku, sosok yang luar biasa dalam hidupku, yang mengajari semua makna kehidupan. Yah, dia adalah segalanya bagiku.
                           Diawali saat aku kecil, masa kecilku tidak semulus harapanku. Saat berada dirumah, aku seakan menerima tekanan. Yah, bukan pukulan kepada diriku, melainkan orangtua yang selalu berantam, beradu mulut. Terlebih saat adikku lahir, orangtuaku semakin sering beradu mulut. Pernah satu hari, dimana Ibuku mengajakku pergi dari rumah, meninggalkan adik dan ayahku. Sesampainya dipenginapan, dengan polosnya aku bertanya kepada ibuku. "Mak, kasihan adik ditinggal dirumah, nanti kalau dia nangis gimana?" Dan ibuku saat itu terdiam mendengar aku bertanya demikian. 
                      Pada akhirnya, ibupun kembali menuju rumah, dan bermaafan dengan ayah, merekapun hidup dengan rukun. Satu foto yang dapat menjadi kenangan saat mereka beradu mulut, adalah saat aku ulang tahun diumur 1 tahun. Dalam foto itu, aku hanya diam tanpa senyum, dan ayah serta ibu tersenyum saat foto. Yah, tidak banyak kenangan masa kecil yang aku ingat. Hanya sepenggal kenangan baik yang senang maupun yang sedih aku rasakan. Menginjak dewasa, aku semakin dikuatkan dengan mandiri, harus berpisah dengan orangtuaku.
                      Walaupun aku hanya anak perempuan dari 3 bersaudara, dan aku anak paling besar. Orangtua menjadikan aku anak yang dewasa dalam segala hal. Semua aku kerjakan sendirian, baik dari pengerjaan tugas sekolah, maupun berangkat sekolah. Semua aku lakukan sendiri. Saat SD bahkan aku sudah diajarkan untuk membuat kue oleh bibiku (adek bapak), sudah diminta mengerjakan pekerjaan rumah. Sama seperti sosok yang aku rindukan, karena sosok yang aku rindukan, sejak kecil sudah ditinggal orangtuanya yang pergi ke Bengkulu, sementara dia berada di Medan mengurus ke 3 adiknya. Begitu besar perjuangan sosok itu, demi ketiga adiknya, dia juga rela berjualan dan mengurus rumah. 
                           Sungguh sangat tak biasa bagi sosok seperti dia yang harus mengurus rumah, baik menyapu dan mengepel rumah. Tapi dia tetap melakukannya tanpa malu dan pamrih, diajarkannya semua adiknya menjadi adik yang baik dan sukses. Yah, suatu kebanggaan memiliki dia yang luar biasa menurutku. Menginjak dewasa dia memutuskan kerja di Perkebunan, dan benar saja, dia merantau ke Palembang. Beberapa tahun disana bersama dengan istri dan anaknya. Beberapa tahun berlalu, pada akhirnya kami kembali ke kampung halaman di Medan. Sesampainya di Medan, tak hanya bercocok tanam, melainkan membuka usaha kecil-kecilan berupa jualan bensin. 
                          Hari berjalan begitu cepatnya hingga, pada akhirnya jualan tersebut harus tutup dan berganti menjadi supir angkot. Yah, begitulah hidup, mungkin diawal kerja ayah menjadi orang yang besar, lalu menurun hingga sampai pada puncaknya tidak bekerja, melainkan mengurus kebun. Namun, kesedihan tak begitu saja menghampiri, adik yang sangat nakal, membuat pikiran semakin dirumitkan dengan keadaan. Satu hal yang disesalkan adalah disaat sosok itu telah tiada bertahun-tahun lamanya adik yang diharapkan menjadi baik, namun tak pernah menjadi baik. Nakal tetap tercap pada dirinya. Hingga pada akhirnya, diapun memutuskan tidak melanjutkan sekolahnya. Dan karena itu semua, akulah yang bertugas memenuhi kebutuhan rumah tangga.
                           Semuanya ku kerjakan seorang diri, yang menjadi kerjaan utamaku, tak hanya sampai disitu aku bekerja. Tetapi mencari tambahan dengan mencari pekerjaan lain sepulang kerjaan utamaku. Tidak sampai disitu saja, kini aku menjalani kerjaan baru berupa online shop sebagai sampingan. Yah, kini pekerjaanku bertambah, menekuni pekerjaan utama, pekerjaan sampingan, dan pekerjaan tambahan. Semua ini aku lakukan demi mereka, mereka yang selalu ada di hatiku, yang selalu mensuport aku dalam segala hal.
                          Yah, satu sisi aku bangga. Tapi kembali lagi, kerinduanku dengan sosok ini, sangatlah rindu, tanpa mampu berkata-kata. Setiap gambar alm terlihat, air mata seakan tak mampu tertahan. Semua mengalir dengan begitu saja, yah, hanya doa yang mampu aku berikan. Kepada sosok yang sudah luar biasa menjadikan aku seperti sekarang. Menjadikan anak yang memiliki sifat sepertinya, tak cengeng dan kuat di perantauan. Ayah, adalah sosok itu, sosok yang selalu aku rindukan, dan aku pilukan. Karena kehilangannya adalah saat aku bertambah usia. Harapku kini, semoga aku bisa menjadi kebanggan keluarga, menjadikan keluarga aku yang kecil menjadi besar. :) Terima kasih sudah membaca sekilas coretanku.
#Coretancerpenev

Produk Skincare

Sore menjelang malam semuanya..

Pertama kali buat blog, bagi aku seru, karena aku bisa megeluarkan semua kata-kata yang aku fikirkan. Nah, pada blog kali ini aku akan review skincare yang lagi aku pakai.

Nah, aku tuh dari SD,SMP,SMA,dan Kuliah paling gak suka sama makeup, apalagi handbody. Tapi, sekarang aku sudah mulai mencoba mengenal yang namanya skincare dan hanbody. Aku akan bahas satu-satu disini. :)

Dimulai dari skincare, seperti yang aku bilang sebelumnya, aku memang gak suka pakai skincare. Tapi di zaman 2018 sekarang, anak SD pun sudah bermakeup. Jujur aku sangat terkejut, karena di zaman aku, makeup itu di SD sama sekali tidak pernah aku lihat. Jadi akupun tak mau ketinggalan zaman dengan anak SD. hehehe 

Tapi, skincare yang aku pakai sekarang juga gak banyak, karena aku juga takut, nantinya wajah aku rusak. Jadi, langsung aja yaaaa....

Oia, wajah aku tipikal berminyak ya all. Dan ada bekas jerawat dan bintik hitamnya gitu. Aku pernah coba banyak skincare, dan beberapa diantaranya membuat wajah aku malah makin berminyak dan makin berjerawat. Nah, skincare yang sekarang aku mau bagikan infonya ini, adalah skincare yang sudah 2 tahun aku pakai dan bagus menurut aku. :)

Step 1

Aku pakai facewash Agnes yang untuk kulit berminyak. Jujur bagus banget, sabunnya tu benar-benar buat minyak diwajah aku berkurang, tapi gak kering banget juga. Dari awal pakai sampai sekarang aku gak berani ganti facewash karena sudah nyaman di wajah aku.:)

Step 2

Aku sekarang sudah mulai pakai pelembab yang melindungi wajahku ekstra dari matahari, aku pakai miliki Skin Aqua yang spf50++ harganya memang agak mahal buatku skitar 50rbuan gtu.Tapi manfaatnya yang aku ambil sih, karena aku baru tahu, ternyata paparan sinar matahari itu gak bagus kenak langsung sama kulit wajah kita. Dan aku mikir, bintik hitam diwajah aku, maybe karena itu. Jadi aku pakai skin aqua spf 50++.

Step 3

Aku pakai BB krim miliknya wardah,tapi salahnya aku pakai yang cair, sehingga membuat wajah aku makin berminyak. Tapi, sekarang aku sudah ganti ke BB cream wardah yang tidak cair melainkan yang bentuk tube gtu. Warna biru muda natural adalah pilihanku, karena cocok dikulit aku dan menyamarkan noda hitam dan lainnya diwajah aku.

Step 4

Setelah wajah aku pakai BB cream, aku pakai bedak tabur dari Marcks warna kuning. Hal itu agar wajah aku matte gak glowing banget. Setelah semua wajah aku kasih betak tabur, selanjutnya aku pakai bedak padat natural dari Wardah. Dan hasilnya diwajah aku bagus banget.

Step 5

Aku pakai lipstik dari wardah sosialpeach, warnanya ke orange muda gtu, mirip nude, tapi agak ke orange. Gak matte banget di awal pemakaian, tapi setelah beberapa menit, jadi cakep gtu teksturnya dibibir aku. Dan saat difoto bibir aku kliatan tipis, walau aslinya tebel. hehehe

Setelah semuanya selesai aku tinggal ngebentuk hidung aku dengan produk dari Emina pop eyeshadow Gelato warna coklat pekat, dan warna beigenya aku pakai sebagai penambah bling dibagian ujung mata dalam.

Nah, itu skincare aku sehari-hari yah. Kalau malamnya, aku hanya pakai pelembab dari Olay.

Untuk bagian tubuh, aku jatuh cinta banget sama Nivea Body Serum yang pink dan orange. Jujur setahun pemakaian, perubahan dikulit aku bagus banget. Gak putih ya, tapi cerah banget. Bahkan dibawah matahari, kulit aku kliatan lebih cerah dan sehat gtu. hehehe,,,

Yaudah, sekian dulu yah isi blog aku, besok akan aku share lagi.

Terima kasih.



Menentukan Pilihan Hidupmu Dari Sekarang Agar Tidak Menyesal Kemudian

Ini adalah postingan pertama aku. Perkenalkan nama aku Vilia. Langsung aja pada intinya. :) 
             Yah, kenapa aku buat judul "Menentukan Pilihan Hidupmu Dari Sekarang Agar Tidak Menyesal Kemudian" hal itu didasari karena aku kini sedang mengalaminya. Mengingat masa laluku, aku sekolah, lalu kuliah, dan kini bekerja. Yah, aku cukup bangga, karena sekarang sudah bisa bekerja. Hanya saja, dari dahulu aku tidak pernah memikirkan masa depanku. Ingin jadi apa, atau kegemaranku apa, jujur dahulu itu aku gak tau. Dan sama sekali tidak kepikiran. Hingga pada akhirnya masuk SMA kelas 2 adalah saat dimana kita menentukan jurusan, mau masuk IPA atau IPS sesuai dengan nilai yang didapatkan. Dan syukurlah, saat itu aku masuk jurusan IPA. Namun, bahagiaku sama sekali tidak tertuju.
             Hal itu satu sisi karena aku melihat dan mengikuti teman-temanku juga. Masuk IPA, ya sekedar masuk IPA. Tapi, satu hal yang kuingat dan kuketahui. Kalau masuk IPA, saat kuliahnya mudah ngambil jurusan apapun. Dan itu menjadi point buatku mengambil jurusan IPA. Kemudian, tamatlah aku dari bangku SMA. Akupun mencoba mendaftar masuk Perguruan Tinggi Negri, setelah test dan coba sana sini. Ternyata aku GAGAL. Melihat beberapa teman yang berhasil masuk, aku seakan tersingkir. Aku menjadi seakan gak percaya diri saat bertemu siapapun. Malu? Yah, sedikit perasaanku demikian. :(
                Untungnya orangtuaku tidak terlalu mengharapkan aku harus masuk PTN. Hingga pada akhirnya mamaku membawaku ke PTS (Perguruan Tinggi Swasta). Mamaku memberikan saran dan masukan, agar aku tidak sedih. Mama juga menentukan sendiri PTS yang aku masuki. Dengan bahagia, aku menginjakkan kaki ke PTS ditemani mamaku. Sesampainya disana, aku kembali dibingungkan dengan pilihan. "Mau ambil jurusan apa?" pertanyaan yang diberikan kepadaku.
                    Karena dari rumah sudah diberikan masukan oleh mama, jadi aku sudah mantap memilih FKIP (Keguruan) yah, mama adalah sosok yang luar biasa. Demi membuatnya bahagia aku memilih menjadi guru. Namun, aku bingung menentukan menjadi guru apa aku? Dan dalam pikirku, alangkah baiknya mengambil yang mudah. Akupun memilih Bahasa Indonesia. Tapi ternyata, tak semudah yang aku bayangkan, 4 tahun kuliah, menjadikan aku berfikir ternyata, Bahasa Indonesia itu tak semudah yang kubayangkan. Banyak lika-liku yang kuhadapi, dimulai dari dosen, teman mahasiswa dan naik turunnya IP yang aku dapatkan.
                     Tapi, semuanya aku jalani dengan berdoa dan demi membahagiakan orangtua. Hingga pada akhirnya, aku tamat dari bangku MAHASISWA dengan IP 3,60. Bangga? Jujur bangga banget, apalagi melihat mama aku bahagia. Walau, saat ulang tahunku, ditahun aku akan tamat kuliah, ayahku meninggal. Tapi, melihat kebahagiaan mama dan adikku adalah obat dikala rinduku bersama ayah. Aku yakin dia juga bahagia saat itu. Mulai dari itu aku kembali menyakini, bahwa pilihan orangtua adalah baik adanya. Tetapi saat aku mendapat pekerjaan, dan jauh dari orangtua, aku merasa sedih, satu hal yang membuatku sedih adalah tidak bisa membahagiakan mama. Aku bekerja dan menjadi pegawai tetap. Aku hanya mengikuti alurku tanpa berfikir dan bertanya kepada mama. Hingga di hari ini, saat ada lowongan yang apabila aku bisa lolos diterima masuk. Aku yakin mamaku akan sangat bahagia.
                      Tetapi, aku tak bisa. Aku tak bisa dicalonkan menjadi salah satu dari pelamar ke bagian itu. Jujur aku sedih, rasanya lebih sedih dari diputusin pacar. Satu hal yang membuatku sedih, tak bisa membuat bahagia mamaku. Yah, aku hanya bisa berfikir dan berdoa. Supaya kedepannya, apa yang ada di depanku dan dijalanku dapat diberkati dan berjalan mulus. Aku hanya ingin melihat mamaku tersenyum bahagia dan bangga dengan aku.
                     Jadi, bagi kalian yang telah membaca Blog aku, semoga tidak seperti aku ya, yang mengambil keputusan sendiri tanpa pikir panjang. :) Aku hanya berbagi kisah, kisah yang mungkin bukan hanya aku yang seperti ini, atau bahkan sebaliknya, hanya aku yang seperti ini.
#Coretanpenaku
                                                      Terima kasih sudah membaca



PUISI CIPTAAN ZHEELIA

HIDUP Kertas itu tak selamanya putih Tinta itu tak selamanya berwarna Kadang roda kehidupan berada di bawah Terkadang pula kita b...