Minggu, 27 Mei 2018

Menentukan Pilihan Hidupmu Dari Sekarang Agar Tidak Menyesal Kemudian

Ini adalah postingan pertama aku. Perkenalkan nama aku Vilia. Langsung aja pada intinya. :) 
             Yah, kenapa aku buat judul "Menentukan Pilihan Hidupmu Dari Sekarang Agar Tidak Menyesal Kemudian" hal itu didasari karena aku kini sedang mengalaminya. Mengingat masa laluku, aku sekolah, lalu kuliah, dan kini bekerja. Yah, aku cukup bangga, karena sekarang sudah bisa bekerja. Hanya saja, dari dahulu aku tidak pernah memikirkan masa depanku. Ingin jadi apa, atau kegemaranku apa, jujur dahulu itu aku gak tau. Dan sama sekali tidak kepikiran. Hingga pada akhirnya masuk SMA kelas 2 adalah saat dimana kita menentukan jurusan, mau masuk IPA atau IPS sesuai dengan nilai yang didapatkan. Dan syukurlah, saat itu aku masuk jurusan IPA. Namun, bahagiaku sama sekali tidak tertuju.
             Hal itu satu sisi karena aku melihat dan mengikuti teman-temanku juga. Masuk IPA, ya sekedar masuk IPA. Tapi, satu hal yang kuingat dan kuketahui. Kalau masuk IPA, saat kuliahnya mudah ngambil jurusan apapun. Dan itu menjadi point buatku mengambil jurusan IPA. Kemudian, tamatlah aku dari bangku SMA. Akupun mencoba mendaftar masuk Perguruan Tinggi Negri, setelah test dan coba sana sini. Ternyata aku GAGAL. Melihat beberapa teman yang berhasil masuk, aku seakan tersingkir. Aku menjadi seakan gak percaya diri saat bertemu siapapun. Malu? Yah, sedikit perasaanku demikian. :(
                Untungnya orangtuaku tidak terlalu mengharapkan aku harus masuk PTN. Hingga pada akhirnya mamaku membawaku ke PTS (Perguruan Tinggi Swasta). Mamaku memberikan saran dan masukan, agar aku tidak sedih. Mama juga menentukan sendiri PTS yang aku masuki. Dengan bahagia, aku menginjakkan kaki ke PTS ditemani mamaku. Sesampainya disana, aku kembali dibingungkan dengan pilihan. "Mau ambil jurusan apa?" pertanyaan yang diberikan kepadaku.
                    Karena dari rumah sudah diberikan masukan oleh mama, jadi aku sudah mantap memilih FKIP (Keguruan) yah, mama adalah sosok yang luar biasa. Demi membuatnya bahagia aku memilih menjadi guru. Namun, aku bingung menentukan menjadi guru apa aku? Dan dalam pikirku, alangkah baiknya mengambil yang mudah. Akupun memilih Bahasa Indonesia. Tapi ternyata, tak semudah yang aku bayangkan, 4 tahun kuliah, menjadikan aku berfikir ternyata, Bahasa Indonesia itu tak semudah yang kubayangkan. Banyak lika-liku yang kuhadapi, dimulai dari dosen, teman mahasiswa dan naik turunnya IP yang aku dapatkan.
                     Tapi, semuanya aku jalani dengan berdoa dan demi membahagiakan orangtua. Hingga pada akhirnya, aku tamat dari bangku MAHASISWA dengan IP 3,60. Bangga? Jujur bangga banget, apalagi melihat mama aku bahagia. Walau, saat ulang tahunku, ditahun aku akan tamat kuliah, ayahku meninggal. Tapi, melihat kebahagiaan mama dan adikku adalah obat dikala rinduku bersama ayah. Aku yakin dia juga bahagia saat itu. Mulai dari itu aku kembali menyakini, bahwa pilihan orangtua adalah baik adanya. Tetapi saat aku mendapat pekerjaan, dan jauh dari orangtua, aku merasa sedih, satu hal yang membuatku sedih adalah tidak bisa membahagiakan mama. Aku bekerja dan menjadi pegawai tetap. Aku hanya mengikuti alurku tanpa berfikir dan bertanya kepada mama. Hingga di hari ini, saat ada lowongan yang apabila aku bisa lolos diterima masuk. Aku yakin mamaku akan sangat bahagia.
                      Tetapi, aku tak bisa. Aku tak bisa dicalonkan menjadi salah satu dari pelamar ke bagian itu. Jujur aku sedih, rasanya lebih sedih dari diputusin pacar. Satu hal yang membuatku sedih, tak bisa membuat bahagia mamaku. Yah, aku hanya bisa berfikir dan berdoa. Supaya kedepannya, apa yang ada di depanku dan dijalanku dapat diberkati dan berjalan mulus. Aku hanya ingin melihat mamaku tersenyum bahagia dan bangga dengan aku.
                     Jadi, bagi kalian yang telah membaca Blog aku, semoga tidak seperti aku ya, yang mengambil keputusan sendiri tanpa pikir panjang. :) Aku hanya berbagi kisah, kisah yang mungkin bukan hanya aku yang seperti ini, atau bahkan sebaliknya, hanya aku yang seperti ini.
#Coretanpenaku
                                                      Terima kasih sudah membaca



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUISI CIPTAAN ZHEELIA

HIDUP Kertas itu tak selamanya putih Tinta itu tak selamanya berwarna Kadang roda kehidupan berada di bawah Terkadang pula kita b...