Ketika Tuhan mengijinkan kita bertemu. Aku berharap, engkau adalah yang terakhir bagiku. Namun, apalah daya diriku. hanya mampu berharap padamu, tanpa menghiraukan orang lain.
Dan kisahku dimulai dari HARAPAN .... ^_^
Yah, mungkin kalian belum mengenalku. Karena aku masih baru belajar menulis sebuah cerita. Dan inilah kisahku!! Aku Zhee,s eorang wanita biasa, dari keluarga yang biasa juga. Sekarang aku duduk dibangku SMP. Tepatnya kelas 2 SMP. Awalnya aku gadis yang pendiam, dan tidak terlalu banyak tingkah. Namun .....
(Saat aku di SMP)
Di kelas 2 SMP, aku ditunjuk sebagai ketua kelas. Sejak saat itu, aku menjadi seorang gadis yang tidak pemalu lagi. Setiap harinya aku menertibkan kelas. Kadang, yang menuliskan catatan di depan kelas juga aku...
"Zhee, tuliskan catatan di papan tulis." Ucap seorang guru
"Zhee, tuliskan catatan di papan tulis." Ucap seorang guru
"Baik bu." Ucapku sambil menerima buku dan menuliskannya ke papan tulis. Karena ukuran papan tulis tidak terlalu lebar. Mau tak mau, aku harus menunggu teman menulis baru aku melanjutkan menulisnya kembali.
Setelah selesai menulis, akupun meminjam buku catatan teman untuk disalin ke buku catatanku.
Hari itupun berlalu, selayaknya waktu yang berjalan. Hingga akhirnya, kakiku melangkah pulang. Begitulah keseharianku, kesekolah dan rumah (membosankan bukan?) ^_^
Sesampainya dirumah, layaknya seorang anak, ya jelas saja, aku mengganti pakaianku, lalu makan dengan makanan yang sudah tersedia. Menonton TV adalah salah satu hobiku. Sembari makan, mataku bisa akan lebih banyak tertuju pada siaran Tv. Film kartun adalah salah satu kesukaanku. Aku bisa tertawa sendiri sembari menonton Tv.
Saat dirumah, yang paling protect kalau aku tak belajar adalah tanteku. Adik perempuan dari bapakku. Dikala matanya melirikku yang asik menonton Tv. Dia bisa saja langsung berbicara ...
"Zhee, ada PR gak?" Dengan nada 1/2 oktaf (Sebutan kalau nada mulai tinggi)
"Gak ada tante." Ucapku sambil terfokus dengan TV.
Namun, kembali lagi suara itu mengganggu ...
"Zhee, besok ada ujian gak?" Masih dengan 1/2 oktaf.
"Enggak tante!" Ucapku sembari terjaga dengan TV sambil tertawa.
Lalu untuk yang ketiga kalinya ...
"Zhee, belajar sekarang!" Ucap tanteku sambil mematikan Tv dengan suara 1 oktaf lembut, namun wajah yang nampak begitu kesal.
Dengan ternganga dan suapan terakhir nasi yang mau aku masukkan kemulut.
Aku menatapnya dan mengangguk. Bergegas kubawa piring dan gelasku ke dapur, lalu kucuci bersih semuanya. Dan mengambil langkah cepat membawa buku pelajaran yang akan diajarkan besok. Tanteku tak hanya mengingatkan aku belajar, disebelahku dia selalu ada. Dalam belajar aku selalu terjaga, jikalau ada yang tak paham, aku selalu tanyakan padanya. Dan begitulah caraku belajar di rumah. Tak heran jika 5 besar selalu bisa kuraih.
Hari Rabu, merupakan hari yang paling kutunggu. Karena hanya hari itu pelajaran Penjas (Pendidikan Jasmani) kudapatkan, berolahraga adalah salah satu cara meregangkan segala yang tegang."Itu sih menurutku." Hahaha...
Saat semua teman sudah menuju lapangan, dengan bangga aku melangkahkan kaki menuju pintu keluar, namun ...
"Karena minggu depan, kelas kalian ditugaskan memimpin upacara, siapa diantara kalian bersedia menjadi pemimpin upacara?" ucap guru olahragaku dikala aku berjalan menuju teman-teman.
Semua teman tertunduk diam. Beberapa pria saling menunjuk. Meminta temanku si A dan B lah, dan berbagai macamlah ditunjuk mereka. Akupun diam dengan wajah tertunduk. Dengan harapan, "Jangan aku, jangan aku."
Dan benar saja, guruku lalu berkata ...
"Karena tidak ada yang bersedia, maka ketua kelas yang akan menjadi pemimpin upacara." Ucap guruku dengan bangga dan memanggilku kedepan lapangan. "Zhee...."
Dengan ekspresi terkejut, setengah senyum terpaksa, kakiku melangkah menuju guruku. Sembari aku mendengar tepuk tangan dan suara bangga dari teman-temanku.
"Saya gak berani pak." Ucapku sambil menatap guruku.
"Nanti saya akan ajarkan." Sembari tersenyum dan mengelus kepala dan pundakku. Itulah tindakan guruku menenangkanku.
Dengan perasaan yang sangat tak yakin, apalagi mengingat kepala sekolah yang akan menjadi pembinanya. Maka perasaan itu semakin tak jelas. Takut dan gugup menjadi satu sama sekali tak ada bahagianya. Saat pelajaran olahraga kumanfaatkan waktu dengan belajar menjadi seorang pemimpin upacara. Dengan serius dan fokus aku mencoba dan mencoba. Begitupun teman-teman lain yang ditugaskan. Semua wanita mengemban bagian dalam upacara nanti. Bel habisnya jam belajar itu membuatku semakin takut. Namun kembali lagi, guru olahragaku menenangkan dan menguatkan.
Hari itupun berlalu, latihan dan latihan selalu kulakukan tidak dirumah, tidak disekolah selalu berlatih. Perasaan takut deg,deggan itu memang tidak dapat dihilangkan. Dan waktu kembali lagi, berlalu begitu cepat. Hari yang dinanti, akhirnya datang juga. Dengan wajah tegang aku mulai memasuki lapangan, saat aba-aba diberikan.
"Upacara pada pagi hari ini akan dimulai. Pemimpin upacara memasuki lapangan upacara." Ucap seorang teman sebagai aba-aba.
Dengan tegap dan sedikit takut, aku memasuki lapangan upacara. Dan saat laporan para pemimpin barisan, aku sekilas merasa bahwa pandangan tertuju padaku. Dan ketika semuanya kembali dengan lantang aku memberi penghormatan kepada pembina upacara.
"Kepada PEMBINA UPACARA, HORMAT GERAAKKK!!!"
"Tegak Gerak!!" Ucapku senyum pada saat pembina menurunkan tangannya.
Dan upacara berakhir hari itu. Dengan perasaan lega namun sedikit gugup juga. Tapi, aku bangga sudah pernah mencoba menjadi seorang pemimpin upacara. Ya, setidaknya aku bisa rasa, apa yang dirasakan saat menjadi seorang pemimpin upacara. Semenjak kejadian itu, kelas lain mengikuti kami dengan mengutus para wanita mnegambil bagian dalam upacara.
Yah, begitulah kisahku dikelas 2 SMP. Seperti halnya tadi kubilang, waktu berlalu banyak kisah terlewati. Kenaikan kelas menjadi hal yang paling ditakuti. Belum lagi, dengan syarat dan peraturan baru disekolahku. Peraturannya yakni, setiap siswa yang rangking 3 besar akan dipindahkan ke kelas unggulan, yakni 91. Teman-temanku memutuskan tak mau beranjak dari kelas 93. Maka saat itu, akupun tak beranjak dari kelas 93. Walau sempat merasakan 1 hari di kelas 91. Namun, hari itu juga aku memutuskan kembali ke kelas 93. Betapa senangnya aku, dapat kembali dengan teman-temanku.
BERSAMMMMBBUNGGGGG...
"Coment dong cerita aku, kira-kira enaknya lanjut atau ada yang kurang?"
^__^
COMENT YA ALL..
Ditunggu yah.....
Hari itupun berlalu, latihan dan latihan selalu kulakukan tidak dirumah, tidak disekolah selalu berlatih. Perasaan takut deg,deggan itu memang tidak dapat dihilangkan. Dan waktu kembali lagi, berlalu begitu cepat. Hari yang dinanti, akhirnya datang juga. Dengan wajah tegang aku mulai memasuki lapangan, saat aba-aba diberikan.
"Upacara pada pagi hari ini akan dimulai. Pemimpin upacara memasuki lapangan upacara." Ucap seorang teman sebagai aba-aba.
Dengan tegap dan sedikit takut, aku memasuki lapangan upacara. Dan saat laporan para pemimpin barisan, aku sekilas merasa bahwa pandangan tertuju padaku. Dan ketika semuanya kembali dengan lantang aku memberi penghormatan kepada pembina upacara.
"Kepada PEMBINA UPACARA, HORMAT GERAAKKK!!!"
"Tegak Gerak!!" Ucapku senyum pada saat pembina menurunkan tangannya.
Dan upacara berakhir hari itu. Dengan perasaan lega namun sedikit gugup juga. Tapi, aku bangga sudah pernah mencoba menjadi seorang pemimpin upacara. Ya, setidaknya aku bisa rasa, apa yang dirasakan saat menjadi seorang pemimpin upacara. Semenjak kejadian itu, kelas lain mengikuti kami dengan mengutus para wanita mnegambil bagian dalam upacara.
Yah, begitulah kisahku dikelas 2 SMP. Seperti halnya tadi kubilang, waktu berlalu banyak kisah terlewati. Kenaikan kelas menjadi hal yang paling ditakuti. Belum lagi, dengan syarat dan peraturan baru disekolahku. Peraturannya yakni, setiap siswa yang rangking 3 besar akan dipindahkan ke kelas unggulan, yakni 91. Teman-temanku memutuskan tak mau beranjak dari kelas 93. Maka saat itu, akupun tak beranjak dari kelas 93. Walau sempat merasakan 1 hari di kelas 91. Namun, hari itu juga aku memutuskan kembali ke kelas 93. Betapa senangnya aku, dapat kembali dengan teman-temanku.
BERSAMMMMBBUNGGGGG...
"Coment dong cerita aku, kira-kira enaknya lanjut atau ada yang kurang?"
^__^
COMENT YA ALL..
Ditunggu yah.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar