Sepintas muncul pertanyaan dalam diriku,"Akankah langitku dan langitmu sama?" Pertanyaan itu seketika muncul saat pandanganku mengarah ke langit siang itu. Langit yang cerah, dan terlihat awan bergerak lebih cepat, hingga menutupi matahari. Sosok yang kini telah tiada, tetapi amat aku rindukan. Sosok yang menjadi panutanku, sosok yang luar biasa dalam hidupku, yang mengajari semua makna kehidupan. Yah, dia adalah segalanya bagiku.
Diawali saat aku kecil, masa kecilku tidak semulus harapanku. Saat berada dirumah, aku seakan menerima tekanan. Yah, bukan pukulan kepada diriku, melainkan orangtua yang selalu berantam, beradu mulut. Terlebih saat adikku lahir, orangtuaku semakin sering beradu mulut. Pernah satu hari, dimana Ibuku mengajakku pergi dari rumah, meninggalkan adik dan ayahku. Sesampainya dipenginapan, dengan polosnya aku bertanya kepada ibuku. "Mak, kasihan adik ditinggal dirumah, nanti kalau dia nangis gimana?" Dan ibuku saat itu terdiam mendengar aku bertanya demikian.
Pada akhirnya, ibupun kembali menuju rumah, dan bermaafan dengan ayah, merekapun hidup dengan rukun. Satu foto yang dapat menjadi kenangan saat mereka beradu mulut, adalah saat aku ulang tahun diumur 1 tahun. Dalam foto itu, aku hanya diam tanpa senyum, dan ayah serta ibu tersenyum saat foto. Yah, tidak banyak kenangan masa kecil yang aku ingat. Hanya sepenggal kenangan baik yang senang maupun yang sedih aku rasakan. Menginjak dewasa, aku semakin dikuatkan dengan mandiri, harus berpisah dengan orangtuaku.
Walaupun aku hanya anak perempuan dari 3 bersaudara, dan aku anak paling besar. Orangtua menjadikan aku anak yang dewasa dalam segala hal. Semua aku kerjakan sendirian, baik dari pengerjaan tugas sekolah, maupun berangkat sekolah. Semua aku lakukan sendiri. Saat SD bahkan aku sudah diajarkan untuk membuat kue oleh bibiku (adek bapak), sudah diminta mengerjakan pekerjaan rumah. Sama seperti sosok yang aku rindukan, karena sosok yang aku rindukan, sejak kecil sudah ditinggal orangtuanya yang pergi ke Bengkulu, sementara dia berada di Medan mengurus ke 3 adiknya. Begitu besar perjuangan sosok itu, demi ketiga adiknya, dia juga rela berjualan dan mengurus rumah.
Sungguh sangat tak biasa bagi sosok seperti dia yang harus mengurus rumah, baik menyapu dan mengepel rumah. Tapi dia tetap melakukannya tanpa malu dan pamrih, diajarkannya semua adiknya menjadi adik yang baik dan sukses. Yah, suatu kebanggaan memiliki dia yang luar biasa menurutku. Menginjak dewasa dia memutuskan kerja di Perkebunan, dan benar saja, dia merantau ke Palembang. Beberapa tahun disana bersama dengan istri dan anaknya. Beberapa tahun berlalu, pada akhirnya kami kembali ke kampung halaman di Medan. Sesampainya di Medan, tak hanya bercocok tanam, melainkan membuka usaha kecil-kecilan berupa jualan bensin.
Hari berjalan begitu cepatnya hingga, pada akhirnya jualan tersebut harus tutup dan berganti menjadi supir angkot. Yah, begitulah hidup, mungkin diawal kerja ayah menjadi orang yang besar, lalu menurun hingga sampai pada puncaknya tidak bekerja, melainkan mengurus kebun. Namun, kesedihan tak begitu saja menghampiri, adik yang sangat nakal, membuat pikiran semakin dirumitkan dengan keadaan. Satu hal yang disesalkan adalah disaat sosok itu telah tiada bertahun-tahun lamanya adik yang diharapkan menjadi baik, namun tak pernah menjadi baik. Nakal tetap tercap pada dirinya. Hingga pada akhirnya, diapun memutuskan tidak melanjutkan sekolahnya. Dan karena itu semua, akulah yang bertugas memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Semuanya ku kerjakan seorang diri, yang menjadi kerjaan utamaku, tak hanya sampai disitu aku bekerja. Tetapi mencari tambahan dengan mencari pekerjaan lain sepulang kerjaan utamaku. Tidak sampai disitu saja, kini aku menjalani kerjaan baru berupa online shop sebagai sampingan. Yah, kini pekerjaanku bertambah, menekuni pekerjaan utama, pekerjaan sampingan, dan pekerjaan tambahan. Semua ini aku lakukan demi mereka, mereka yang selalu ada di hatiku, yang selalu mensuport aku dalam segala hal.
Yah, satu sisi aku bangga. Tapi kembali lagi, kerinduanku dengan sosok ini, sangatlah rindu, tanpa mampu berkata-kata. Setiap gambar alm terlihat, air mata seakan tak mampu tertahan. Semua mengalir dengan begitu saja, yah, hanya doa yang mampu aku berikan. Kepada sosok yang sudah luar biasa menjadikan aku seperti sekarang. Menjadikan anak yang memiliki sifat sepertinya, tak cengeng dan kuat di perantauan. Ayah, adalah sosok itu, sosok yang selalu aku rindukan, dan aku pilukan. Karena kehilangannya adalah saat aku bertambah usia. Harapku kini, semoga aku bisa menjadi kebanggan keluarga, menjadikan keluarga aku yang kecil menjadi besar. :) Terima kasih sudah membaca sekilas coretanku.
#Coretancerpenev